Monday, November 17, 2008

‡ Light of Life ‡


Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya.
Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.

Orang buta itu terbahak berkata,
"Buat apa saya membawa pelita?
Kan sama saja buat saya!
Saya bisa pulang kok."

Dengan lembut sahabatnya menjawab,
"Ini agar orang lain bisa melihat kamu,
agar mereka tidak menabrakmu."

Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut.
Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta.

Dengan kagetnya, ia mengomel,
"Hei, kamu kan punya mata!
Beri jalan buat orang buta dong!"

Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta.
Kali ini si buta bertambah marah,
"Apa kamu buta?
Tidak bisa lihat ya?
Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!"

Pejalan itu menukas,
"Kamu yang buta!
Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!"

Si buta tertegun...
Menyadari situasi itu, penabraknya minta maaf,
"Oh, maaf, sayalah yang 'buta'.
Saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta."

Si buta tersipu menjawab,
"Tidak apa-apa.
Maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya."

Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta.
Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Dalam perjalanan selanjutnya,
ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita.

Kali ini, si buta lebih berhati-hati;
dia bertanya dengan santun,
"Maaf, apakah pelita saya padam?"

Penabraknya menjawab,
"Lah, saya justru mau menanyakan hal yang sama."

Senyap sejenak, secara berbarengan mereka bertanya,
"Apakah Anda orang buta?"

Secara serempak pun mereka menjawab,
"Iya..." sembari meledak dalam tawa.

Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

Pada waktu itu juga, seseorang lewat.
Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut.

Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta.
Timbul pikiran dalam benak orang ini,
"Rasanya saya perlu membawa pelita juga,
jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik;
orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."

__________

Sepenggal cerita yang gw ambil ini dilengkapi dengan analisis ceritanya,
jadi gw sertakan di sini juga yah... =)


Pelita melambangkan terang kebijaksanaan.
Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup.
Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan.

Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan;
selalu menunjuk ke arah orang lain,
tidak sadar bahwa telah banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri.

Dalam perjalanan "pulang",
ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya.
Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan,
dengan adanya belas kasih dari pihak lain, ia juga belajar menjadi pemaaf.


Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli.
Kadang mereka memilih untuk "membuta" walau mereka bisa melihat.

Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita,
yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja.
Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita.

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing?
Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam?

Jadilah pelita, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

Tak seorang pun yang mau menjadi buta;
sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita.
Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya.

Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya.
Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi semakin melek, semakin bijaksana.

Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan,


"Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita,
dan nyala pelita pertama tidak akan meredup.
Pelita kebijaksanaan pun takkan pernah habis terbagi.
Bila mata tanpa penghalang,
hasilnya adalah penglihatan.
Jika telinga tanpa penghalang,
hasilnya adalah pendengaran.
Hidung yang tanpa penghalang,
membuahkan penciuman.
Pikiran yang tanpa penghalang,
hasilnya adalah kebijaksanaan."


Gw cukup suka dengan cerita bijaksana yang singkat ini karena harus diakui,
kadang kita lah yang menjadi sang orang buta pertama,
tetapi kadang tidaklah tidak mungkin kita menjadi sosok penabrak pertama yang tidak mau peduli dan "membutakan" diri sendiri,
atau menjadi sang penabrak kedua yang mengajarkan kesalahan orang lain,
dan bisa jadi sesama orang buta yang baru menyadari sesama kita,
sebelum mungkin menyadari pentingnya pelita kebijaksanaan seperti sang orang terakhir.

Kitalah yang menentukan akan menjadi peran yang mana,
kita juga yang tahu di mana posisi kita dan bagaimana menetapkan diri kita sendiri,
semua tentang kebijaksanaan kita pelajari dan kita pahami.


Give you guys a quote:


"We are made wise not by the recollection of our past, but by the responsibility for our future."
(George Bernard Shaw)


+Lyrics of the day+
祈り続けていいですか
信じ続けていいですか
あなただけがいま 私の真実よ
誰よりも強くなりたい
愛しきひとを守りたい
私を照らし続ける光を
(ヒカリ by 堀江 由衣)

Inori tsudzukete ii desu ka
Shinji tsudzukete ii desu ka
Anata dake ga ima watashi no shinjitsu yo
Dare yori mo tsuyoku naritai
Itoshiki hito wo mamoritai
Watashi wo terashi tsudzukeru hikari wo
(Hikari by Horie Yui)

Is it all right to continue praying?
Is it all right to continue believing?
You are the only thing I believe in
I want to be stronger than anyone
I want to protect the people I love
With the light that continues to shine on me

0 issues: